Keep Enjoy Guys!!!

Jumat, 27 Januari 2017

Telat Sudah



telat sudah
semua telah terjadi
terlanjur tenggelam dalam rasa nyaman
terlanjur terbang akan segala bayangan
kian berat aku terbebani
kian besar rasa ini

jemari ini terus menari dengan lincah
mata ini terus memandang dengan binarnya
bibir ini yang memperindah wajah dengan senyum
dan hati yang kian berdegup dengan irama yang tepat

salah memang
naas bisa dibilang
bagaikan tertusuk kail
akan lebih sakit bila dilepas

sekedar diam tak berkata
kadang kucoba acuh
namun hati menolak
menolak akan belokkan baru di jalan yang terlanjur dibuat

Minggu, 22 Januari 2017

Putus Asa? Aku Rasa Tidak



seketika redup
perlahan cahaya hilang
kehangatan pergi
kemudian dingin menggantikan

sekarang aku seperti huruf vokal
teguh sendri
tak seperti huruf konsonan
selalu berdua ketika dilafalkan

tak renta meski tak bersama
tak sedih ketika ia pergi
tak tertunduk
meski sudah tak bersatu

putus asa?
aku rasa tidak akan
dia hanyalah guru
yang mengajarkan bertahan akan rasa pilu

diam terpaku?
aku rasa tidak butuh
dia hanyalah aktor
yang mengajarkan suatu rekayasa monoton

Kamis, 19 Mei 2016

Aku Merasa


aku merasa menjadi orang terbodoh di alam ini
hanya melihat orang lain jauh didepan
hanya melihat orang lain tinggi diatas
aku hanya bisa bermalas-malasan
kadang terduduk, kadang terkapar
jauh, jauh didasar palung yang terbelakang

aku merasa menjadi orang terbodoh di alam ini
mudah berubah tak tahu arah
terlena akan hal yang tabu
tak pernah yakin di satu titik
tertinggal bukan karena kalah
namun tertinggal karena sifat yang semu

aku merasa menjadi orang terbodoh di alam ini
tak pernah memandang padang itu luas
tak pernah mau merasakan kesejukan angin dari semesta
mudah terbujuk oleh rayuan pohon rindang
berleha-leha melihat orang lain diujung sabana
tak merasa salah kaprah

aku merasa menjadi orang terbodoh di alam ini
hanya berangan tak mau bergerak
hanya menunjuk tak jua melangkah
ingin terlihat sempurna namun tak kasat mata
merasa jenuh namun tak mau sadar
akulah orang yang merasa bodoh namun sembunyi di alam ini

Kamis, 11 Februari 2016

Anggaplah Kau Bukan Dandelion


Aku bergerak
mencoba mencapai suatu angan
berharap mendapat keindahanmu
namun dandelion tetap terbang tertiup angin

resah takut kau tak tersisa
menghilang silih berganti
kau tumbuh di mana kau jatuh
bisakah kau tak seperti itu?

aku mau keindahanmu hanya diam pada satu tempat
tak rela aku berbagi keindahanmu
tak kuasa aku membentengimu dari angin
karena mereka datang dari segala arah

oh dandelion..
aku tahu itu sifatmu
namun aku egois akan keindahanmu
cukuplah di sini
cukuplah aku yang menikmati keindahanmu
anggaplah kau bukan dandelion

Sabtu, 06 Februari 2016

“firmaan, bangun nak, tadi ada pak pos yang memberikan amplop ini, katanya buat saudara firman”, ibuku penasaran sekali apa isi amplop itu. Setelah kubaca nama pengirimnya, ternyata dari pihak kampus yang dua minggu yang lalu aku tes disitu. Perlahan aku buka, aku dan ibuku sama-sama merasa penasaran akan apa isinya setalah aku jelaskan dari mana surat itu datang kepada ibuku. Suara sobekkan apmplopnya membuat jantungku berdegup kencang. Dan perlahan aku tarik keluar isinya, dan kubuka tertulis disitu “Selamat kepada saudara Mohamad Firman, anda dinyatakan lulus”. Aku langsung memeluk ibuku dan berkata, “firman lulus bu, firman bisa kuliah tanpa ngebebanin ibu sama ayah”, kami berduapun terisak bahagia atas isi dari surat itu. Ditengah pelukanku bersama ibu, aku melihat sosok ayah berdiri diambang pintu dan tetap jarang bicara, namun hanya tersenyum. 2 minggu menuju keberangkatanku ke kampus, ayahku tiba-tiba sakit-sakitan, batuk tiap hari yang kudengar dari ayahku semakin lama semakin parah. Dengan uang seadanya aku dan ibu membawa ayah ke puskesmas untuk berobat. Menurut dokter dipuskesmas tersebut, ayah harus dilakukan pengobatan dan harus beristirahat satu bulan penuh, kegembiraanku perlahan berubah menjadi kesedihan yang tiap hari melihat ayahku kesakitan seperti itu. Namun dengan kondisinya yang seperti itu, ayahku tetap tersenyum kepadaku dan mengatakan kalau aku tidak usah kehilangan fokus kuliah gara-gara kondisi ayah. Tapi aku tetap terdiam, aku tahan tangisanku untuk ayah, agar membuat hatinya tidak terasa sakit melihat anaknya yang selalu sedih. Selagi masih ada waktu sebelum aku kuliah, aku membantu ibuku berjualan tahu keliling sebagai pengganti ayah, sampai kondisinya membaik.
           Senja dihari itu, hari dimana ayahku kembali pulih dari kondisi terburuknya. Tuhan telah benar-benar memberikan kuasa-Nya terhadap keluarga kami. Disaat esok harinya aku akan berpamitan dari rumahku dan segala penghuninya. Sore itu aku benar-benar merasa bahagia, namun kadang sedih itu menyelingi ketika angan-angan melayang pada nun jauh disana. Bagaimana jika aku meninggalkan keluarga ini? Melintas jauh melangkahi banyak kota dari kampungku, meninggalkan ayah dan ibuku dengan segala kewajibannya sebagai orang tua? Itu yang sedang berkecamuk dihatiku, fokusku untuk kuliah terpecah. Akankah aku berbesar hati menjalaninya? Hanya tuhan yang tahu akan jawabannya.

Kamis, 04 Februari 2016


Kini, aku adalah firman yang berbeda, firman yang tidak lagi mengenal kata iri, tersinggung, rasa putus asa dan sebagainya. Itu semua berkat ayahku, ayahku sipenjual tahu yang sangat aku kagumi dan hormati. Kekagumanku akan sosoknya yang ramah dan tak pernah mengeluh akan apapun yang sedang dijalaninya, walau itu buruk sekalipun. Ayah mengajariku agar hidup menjadi seorang manusia yang layak untuk hidup bahagia dengan cara apapun selagi itu benar. Ketika aku dan ayah sedang tiduran di sebuah gubug didepan rumah, dengan tatapan mata ayah yang memandang jauh awan-awan dilangit sana ia berkata, “kebahagiaan hidup bukan dari dimana kamu mendapatkan suatu kelebihan di banding orang lain, namun kebahagian hidup itu ketika kita memberikan suatu kelebihan itu terhadap orang lain tanpa ia sadari”. Awalnya aku bingung apa maksud ayahku itu, apa maksud dari kita memberikan kelebihan terhadap orang lain? Aku bertanya-tanya sendiri, sampai pusing aku dibuatnya. Mungkin melihat anaknya kebingungan, ayahku merasa kasihan dan akhirnya ia pun menghampiriku. Aku sedikit tersenyum melihat ayahku langsung tanggap denganku, namun apa yang aku fikirkan itu tidak sesuai dengan apa yang selanjutnya terjadi, ayah menghampiriku dengan bibir yang menyunggingkan senyumannya dan hanya baerkata “sudahlah tidak usah kau fikirkan kata-kata ayah sekarang nak, seiring berjalannya waktu dalam menjalani hidup, lambat laun kamu akan mengerti dengan apa yang akan nanti kamu jalani nak”. Akhirnya aku hanya tersenyum kecut dibuatnya.
          Kokokkan ayam pun terdengar, yang menandakan datangnya waktu pagi di kampungku, dengan muka yang lusuh aku harus bangun di pagi buta seperti ini untuk melewati jembatan terakhir menuju dunia kampus yang sudah aku rencanakan dengan matang. Air dari sumur menyelimuti seluruh tubuhku yang rasa dingin yang tak terkira, munusuk-nusuk tulangku yang membuatku menari-nari dan teriak-teriak menahan hantaman air sumur itu ketubuhku. Secepat kilat aku menyelesaikan mandiku dan langsung bergegas sholat shubuh, ditengah keheningan suasana shubuh pagi ini aku menengadahkan tanganku seraya berdoa meminta kepada sang Illahi atas apa yang sudah aku lakukan ini, semoga diberikan yang terbaik oleh-Nya. Ketika aku sedang memasukan persiapan perangku didalam tas yang sudah kupakai sejak kelas 1 SMA ini, tiba-tiba tercium aroma khas telur dadar buatan ibuku, dimana bumbu yang dicampurkannya, ditumbuk hingga halus dan di goreng bersama dengan telur, air liurku serasa ingin tumpah dibuatnya. “firmaan, sini nak sarapan dulu, ibu sudah buatkan telur dadar sama nasi putih hangat, ayok makan dulu” teriak ibuku dari dalam dapur yang sekaligus menjadi ruang makan keluargaku. “iya bu sebentar ya, ini firman sebentar lagi kesitu” jawab aku. Dengan sigapnya aku berjalan cepat menuju meja makan dan tak sabar lagi menyantap masakan ibuku dipagi ini. Namun aku merasa benar-benar tak menyangka, didalam tudung saji itu, terdapat susu putih hangat. Padahal ini sedang tida ada dana bantuan dari pemerintah, tapi kenapa bisa ada susu dirumahku? Aku sangat heran karenanya. Ibuku yang melihat ekspresiku seperti itu, langsung berbicara, “sudah ayo nak, dimakan makanannya dan jangan lupa habiskan susunya”, “iya bu, terimakasih sudah menyiapkan sarapan buat firman” timpal aku. Setelah semuanya beres, aku berpamitan dengan ibu yang sedang sibuk dengan urusannya didapur, dan setelah itu aku berpamitan kepada ayahku yang sedari tadi sudah menungguku diluar menanti kepergian anaknya dalam perjuangan menuntut ilmu. Ketika mencium tangan ayahku, aku merasa sedih sekali, heningnya suasana saat itu benar-benar terasa. Ayah tidak berkata apa-apa, namun aku meneteskan air mataku dipunggung tangannya, sampai ketika aku akan mengayuh sepedaku pun ayah tetap terdiam tanpa ada sepatah katapun, hanya senyuman yang terlihat dari bibirnya. Semakin jauh aku mengayuh, semakin sedih rasanya, serasa aku benar-benar akan pergi jauh dari keluarga terutama ayahku. Namun aku cepat-cepat membuang jauh-jauh kesedihanku. Disepanjang jalan ditengah-tengah persawahan, indah rasanya melihat matahari terbit, menampakkan siluet para petani yang sedang melakukan aktifitasnya. “hitam tak selalu tidak terlihat indah” fikirku. Akhirnya setelah 15 kilometer aku menempuh perjalanan dengan sepeda kesayanganku, aku samapi ditempat ujian tes tulis menuju tempat kuliah yang aku idam-idamkan. Semuanya sudah kurencanakan, aku pasti bisa lulus ujian ini dan mendapatkan beasiswa full selama masa kuliahku.

Rabu, 03 Februari 2016



“Hei mahasiswa tempat sampah berjalan! sudah berapa banyak uang yang kau hasilkan selama ini? Sudah bisa untuk membeli laptop? Smartphone? Atau makan bubur pak firman yang rasanya entah seperti perasan keringatnya berjualan? Hahahahaa” teriak salah satu mahasiswa senior yang memang terkenal angkuh bagaikan ayam kate yang selalu ingin tampil gagah disaat ada mata ayam lain yang melihatnya. Ya, itulah aku sang mahasiswa tempat sampah berjalan sapaanku atau nama trenku dikalangan manusia-manusia yang menganggap dirinya itu derajatnya lebih tinggi dari siapapun.

Firman, itulah namaku. Sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Sebuah nama yang tidak boleh sekalipun membuat pemberinya menangis olehku. Dan kebetulan sekali namaku persis sama seperti nama tukang bubur langgananku yang tiap aku berangkat kuliah, sudah ada didepan rumah kontrakanku yang kuanggap sangat mewah. Dengan dipan yang dijadikan sebagai kursi tempat bersantai disore hari, dibawah tegaknya pohon rambutan yang tumbuh dipekarangan rumah yang sekelilingnya dipagari oleh bambu-bambu kecil. Halaman yang dipenuhi oleh hamparan rumput yang dirawat oleh si pemilik rumah, dan bunyi kusen pintu yang bergesekan karena ada angin yang lewat, harmonisasi itu terasa nyaman buatku, yang hanyalah seorang anak pedagang tahu keliling yang rumahnya hanya pinjaman dari belas kasihan kepala desaku. Aku adalah anak sulung dari 3 bersaudara yang semua adikku adalah perempuan dan umurnya pun terlampau jauh denganku, itulah yang menyebabkan aku menjadi harapan pertama keluarga. Sejak kecil aku dididik oleh ayahku agar tidak mudah pesimis, dan jangan pernah tidak memandang pengalaman apa yang sudah terjadi, “pandanglah sesekali kenanganmu itu, baik ataupun buruk, cermati dan koreksi itu, rubahlah sekarang” itulah wejangan dari ayahku yang selalu aku ingat dan selalu aku usahakan agar dapat seperti itu. Walaupun hanya pedagang tahu keliling, ayahku tidak pernah murung ataupun melamun memikirkan nasibnya yang hanya sebagai pengayuh sepeda untuk menjajahkan tahu jualannya setiap fajar muncul dari ufuk timur. Ayahku adalah sosok periang yang suka membagikan semangat hidupnya pada keluarga terutama aku. Tak ada lagi kata sedih semenjak kejadian itu, kejadian dimana harga diriku yang hanya sebagai anak penjual tahu keliling diinjak-injak dan aku merasa benar-benar tersayat sembilu di hatiku.