“Hei
mahasiswa tempat sampah berjalan! sudah berapa banyak uang yang kau hasilkan
selama ini? Sudah bisa untuk membeli laptop? Smartphone? Atau makan bubur pak
firman yang rasanya entah seperti perasan keringatnya berjualan? Hahahahaa”
teriak salah satu mahasiswa senior yang memang terkenal angkuh bagaikan ayam
kate yang selalu ingin tampil gagah disaat ada mata ayam lain yang melihatnya.
Ya, itulah aku sang mahasiswa tempat sampah berjalan sapaanku atau nama trenku
dikalangan manusia-manusia yang menganggap dirinya itu derajatnya lebih tinggi
dari siapapun.
Firman,
itulah namaku. Sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Sebuah nama
yang tidak boleh sekalipun membuat pemberinya menangis olehku. Dan kebetulan
sekali namaku persis sama seperti nama tukang bubur langgananku yang tiap aku
berangkat kuliah, sudah ada didepan rumah kontrakanku yang kuanggap sangat
mewah. Dengan dipan yang dijadikan sebagai kursi tempat bersantai disore hari,
dibawah tegaknya pohon rambutan yang tumbuh dipekarangan rumah yang
sekelilingnya dipagari oleh bambu-bambu kecil. Halaman yang dipenuhi oleh
hamparan rumput yang dirawat oleh si pemilik rumah, dan bunyi kusen pintu yang
bergesekan karena ada angin yang lewat, harmonisasi itu terasa nyaman buatku, yang
hanyalah seorang anak pedagang tahu keliling yang rumahnya hanya pinjaman dari
belas kasihan kepala desaku. Aku adalah anak sulung dari 3 bersaudara yang
semua adikku adalah perempuan dan umurnya pun terlampau jauh denganku, itulah
yang menyebabkan aku menjadi harapan pertama keluarga. Sejak kecil aku dididik
oleh ayahku agar tidak mudah pesimis, dan jangan pernah tidak memandang
pengalaman apa yang sudah terjadi, “pandanglah sesekali kenanganmu itu, baik
ataupun buruk, cermati dan koreksi itu, rubahlah sekarang” itulah wejangan dari
ayahku yang selalu aku ingat dan selalu aku usahakan agar dapat seperti itu.
Walaupun hanya pedagang tahu keliling, ayahku tidak pernah murung ataupun
melamun memikirkan nasibnya yang hanya sebagai pengayuh sepeda untuk
menjajahkan tahu jualannya setiap fajar muncul dari ufuk timur. Ayahku adalah
sosok periang yang suka membagikan semangat hidupnya pada keluarga terutama
aku. Tak ada lagi kata sedih semenjak kejadian itu, kejadian dimana harga
diriku yang hanya sebagai anak penjual tahu keliling diinjak-injak dan aku
merasa benar-benar tersayat sembilu di hatiku.

Ledekan Dibalik Setumpuk Kertas (Part 1)