Keep Enjoy Guys!!!

Rabu, 03 Februari 2016



“Hei mahasiswa tempat sampah berjalan! sudah berapa banyak uang yang kau hasilkan selama ini? Sudah bisa untuk membeli laptop? Smartphone? Atau makan bubur pak firman yang rasanya entah seperti perasan keringatnya berjualan? Hahahahaa” teriak salah satu mahasiswa senior yang memang terkenal angkuh bagaikan ayam kate yang selalu ingin tampil gagah disaat ada mata ayam lain yang melihatnya. Ya, itulah aku sang mahasiswa tempat sampah berjalan sapaanku atau nama trenku dikalangan manusia-manusia yang menganggap dirinya itu derajatnya lebih tinggi dari siapapun.

Firman, itulah namaku. Sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Sebuah nama yang tidak boleh sekalipun membuat pemberinya menangis olehku. Dan kebetulan sekali namaku persis sama seperti nama tukang bubur langgananku yang tiap aku berangkat kuliah, sudah ada didepan rumah kontrakanku yang kuanggap sangat mewah. Dengan dipan yang dijadikan sebagai kursi tempat bersantai disore hari, dibawah tegaknya pohon rambutan yang tumbuh dipekarangan rumah yang sekelilingnya dipagari oleh bambu-bambu kecil. Halaman yang dipenuhi oleh hamparan rumput yang dirawat oleh si pemilik rumah, dan bunyi kusen pintu yang bergesekan karena ada angin yang lewat, harmonisasi itu terasa nyaman buatku, yang hanyalah seorang anak pedagang tahu keliling yang rumahnya hanya pinjaman dari belas kasihan kepala desaku. Aku adalah anak sulung dari 3 bersaudara yang semua adikku adalah perempuan dan umurnya pun terlampau jauh denganku, itulah yang menyebabkan aku menjadi harapan pertama keluarga. Sejak kecil aku dididik oleh ayahku agar tidak mudah pesimis, dan jangan pernah tidak memandang pengalaman apa yang sudah terjadi, “pandanglah sesekali kenanganmu itu, baik ataupun buruk, cermati dan koreksi itu, rubahlah sekarang” itulah wejangan dari ayahku yang selalu aku ingat dan selalu aku usahakan agar dapat seperti itu. Walaupun hanya pedagang tahu keliling, ayahku tidak pernah murung ataupun melamun memikirkan nasibnya yang hanya sebagai pengayuh sepeda untuk menjajahkan tahu jualannya setiap fajar muncul dari ufuk timur. Ayahku adalah sosok periang yang suka membagikan semangat hidupnya pada keluarga terutama aku. Tak ada lagi kata sedih semenjak kejadian itu, kejadian dimana harga diriku yang hanya sebagai anak penjual tahu keliling diinjak-injak dan aku merasa benar-benar tersayat sembilu di hatiku.

0 komentar:

Posting Komentar