
Kini,
aku adalah firman yang berbeda, firman yang tidak lagi mengenal kata iri,
tersinggung, rasa putus asa dan sebagainya. Itu semua berkat ayahku, ayahku
sipenjual tahu yang sangat aku kagumi dan hormati. Kekagumanku akan sosoknya
yang ramah dan tak pernah mengeluh akan apapun yang sedang dijalaninya, walau
itu buruk sekalipun. Ayah mengajariku agar hidup menjadi seorang manusia yang
layak untuk hidup bahagia dengan cara apapun selagi itu benar. Ketika aku dan
ayah sedang tiduran di sebuah gubug didepan rumah, dengan tatapan mata ayah
yang memandang jauh awan-awan dilangit sana ia berkata, “kebahagiaan hidup
bukan dari dimana kamu mendapatkan suatu kelebihan di banding orang lain, namun
kebahagian hidup itu ketika kita memberikan suatu kelebihan itu terhadap orang
lain tanpa ia sadari”. Awalnya aku bingung apa maksud ayahku itu, apa maksud
dari kita memberikan kelebihan terhadap orang lain? Aku bertanya-tanya sendiri,
sampai pusing aku dibuatnya. Mungkin melihat anaknya kebingungan, ayahku merasa
kasihan dan akhirnya ia pun menghampiriku. Aku sedikit tersenyum melihat ayahku
langsung tanggap denganku, namun apa yang aku fikirkan itu tidak sesuai dengan
apa yang selanjutnya terjadi, ayah menghampiriku dengan bibir yang
menyunggingkan senyumannya dan hanya baerkata “sudahlah tidak usah kau fikirkan
kata-kata ayah sekarang nak, seiring berjalannya waktu dalam menjalani hidup,
lambat laun kamu akan mengerti dengan apa yang akan nanti kamu jalani nak”.
Akhirnya aku hanya tersenyum kecut dibuatnya.
Kokokkan
ayam pun terdengar, yang menandakan datangnya waktu pagi di kampungku, dengan
muka yang lusuh aku harus bangun di pagi buta seperti ini untuk melewati
jembatan terakhir menuju dunia kampus yang sudah aku rencanakan dengan matang.
Air dari sumur menyelimuti seluruh tubuhku yang rasa dingin yang tak terkira,
munusuk-nusuk tulangku yang membuatku menari-nari dan teriak-teriak menahan
hantaman air sumur itu ketubuhku. Secepat kilat aku menyelesaikan mandiku dan
langsung bergegas sholat shubuh, ditengah keheningan suasana shubuh pagi ini
aku menengadahkan tanganku seraya berdoa meminta kepada sang Illahi atas apa
yang sudah aku lakukan ini, semoga diberikan yang terbaik oleh-Nya. Ketika aku
sedang memasukan persiapan perangku didalam tas yang sudah kupakai sejak kelas
1 SMA ini, tiba-tiba tercium aroma khas telur dadar buatan ibuku, dimana bumbu
yang dicampurkannya, ditumbuk hingga halus dan di goreng bersama dengan telur,
air liurku serasa ingin tumpah dibuatnya. “firmaan, sini nak sarapan dulu, ibu
sudah buatkan telur dadar sama nasi putih hangat, ayok makan dulu” teriak ibuku
dari dalam dapur yang sekaligus menjadi ruang makan keluargaku. “iya bu
sebentar ya, ini firman sebentar lagi kesitu” jawab aku. Dengan sigapnya aku
berjalan cepat menuju meja makan dan tak sabar lagi menyantap masakan ibuku
dipagi ini. Namun aku merasa benar-benar tak menyangka, didalam tudung saji
itu, terdapat susu putih hangat. Padahal ini sedang tida ada dana bantuan dari
pemerintah, tapi kenapa bisa ada susu dirumahku? Aku sangat heran karenanya.
Ibuku yang melihat ekspresiku seperti itu, langsung berbicara, “sudah ayo nak,
dimakan makanannya dan jangan lupa habiskan susunya”, “iya bu, terimakasih
sudah menyiapkan sarapan buat firman” timpal aku. Setelah semuanya beres, aku
berpamitan dengan ibu yang sedang sibuk dengan urusannya didapur, dan setelah
itu aku berpamitan kepada ayahku yang sedari tadi sudah menungguku diluar
menanti kepergian anaknya dalam perjuangan menuntut ilmu. Ketika mencium tangan
ayahku, aku merasa sedih sekali, heningnya suasana saat itu benar-benar terasa.
Ayah tidak berkata apa-apa, namun aku meneteskan air mataku dipunggung
tangannya, sampai ketika aku akan mengayuh sepedaku pun ayah tetap terdiam tanpa
ada sepatah katapun, hanya senyuman yang terlihat dari bibirnya. Semakin jauh
aku mengayuh, semakin sedih rasanya, serasa aku benar-benar akan pergi jauh
dari keluarga terutama ayahku. Namun aku cepat-cepat membuang jauh-jauh
kesedihanku. Disepanjang jalan ditengah-tengah persawahan, indah rasanya
melihat matahari terbit, menampakkan siluet para petani yang sedang melakukan
aktifitasnya. “hitam tak selalu tidak terlihat indah” fikirku. Akhirnya setelah
15 kilometer aku menempuh perjalanan dengan sepeda kesayanganku, aku samapi
ditempat ujian tes tulis menuju tempat kuliah yang aku idam-idamkan. Semuanya
sudah kurencanakan, aku pasti bisa lulus ujian ini dan mendapatkan beasiswa
full selama masa kuliahku.
Posted in Cerpen
Anggaplah Kau Bukan Dandelion