Keep Enjoy Guys!!!

Kamis, 04 Februari 2016


Kini, aku adalah firman yang berbeda, firman yang tidak lagi mengenal kata iri, tersinggung, rasa putus asa dan sebagainya. Itu semua berkat ayahku, ayahku sipenjual tahu yang sangat aku kagumi dan hormati. Kekagumanku akan sosoknya yang ramah dan tak pernah mengeluh akan apapun yang sedang dijalaninya, walau itu buruk sekalipun. Ayah mengajariku agar hidup menjadi seorang manusia yang layak untuk hidup bahagia dengan cara apapun selagi itu benar. Ketika aku dan ayah sedang tiduran di sebuah gubug didepan rumah, dengan tatapan mata ayah yang memandang jauh awan-awan dilangit sana ia berkata, “kebahagiaan hidup bukan dari dimana kamu mendapatkan suatu kelebihan di banding orang lain, namun kebahagian hidup itu ketika kita memberikan suatu kelebihan itu terhadap orang lain tanpa ia sadari”. Awalnya aku bingung apa maksud ayahku itu, apa maksud dari kita memberikan kelebihan terhadap orang lain? Aku bertanya-tanya sendiri, sampai pusing aku dibuatnya. Mungkin melihat anaknya kebingungan, ayahku merasa kasihan dan akhirnya ia pun menghampiriku. Aku sedikit tersenyum melihat ayahku langsung tanggap denganku, namun apa yang aku fikirkan itu tidak sesuai dengan apa yang selanjutnya terjadi, ayah menghampiriku dengan bibir yang menyunggingkan senyumannya dan hanya baerkata “sudahlah tidak usah kau fikirkan kata-kata ayah sekarang nak, seiring berjalannya waktu dalam menjalani hidup, lambat laun kamu akan mengerti dengan apa yang akan nanti kamu jalani nak”. Akhirnya aku hanya tersenyum kecut dibuatnya.
          Kokokkan ayam pun terdengar, yang menandakan datangnya waktu pagi di kampungku, dengan muka yang lusuh aku harus bangun di pagi buta seperti ini untuk melewati jembatan terakhir menuju dunia kampus yang sudah aku rencanakan dengan matang. Air dari sumur menyelimuti seluruh tubuhku yang rasa dingin yang tak terkira, munusuk-nusuk tulangku yang membuatku menari-nari dan teriak-teriak menahan hantaman air sumur itu ketubuhku. Secepat kilat aku menyelesaikan mandiku dan langsung bergegas sholat shubuh, ditengah keheningan suasana shubuh pagi ini aku menengadahkan tanganku seraya berdoa meminta kepada sang Illahi atas apa yang sudah aku lakukan ini, semoga diberikan yang terbaik oleh-Nya. Ketika aku sedang memasukan persiapan perangku didalam tas yang sudah kupakai sejak kelas 1 SMA ini, tiba-tiba tercium aroma khas telur dadar buatan ibuku, dimana bumbu yang dicampurkannya, ditumbuk hingga halus dan di goreng bersama dengan telur, air liurku serasa ingin tumpah dibuatnya. “firmaan, sini nak sarapan dulu, ibu sudah buatkan telur dadar sama nasi putih hangat, ayok makan dulu” teriak ibuku dari dalam dapur yang sekaligus menjadi ruang makan keluargaku. “iya bu sebentar ya, ini firman sebentar lagi kesitu” jawab aku. Dengan sigapnya aku berjalan cepat menuju meja makan dan tak sabar lagi menyantap masakan ibuku dipagi ini. Namun aku merasa benar-benar tak menyangka, didalam tudung saji itu, terdapat susu putih hangat. Padahal ini sedang tida ada dana bantuan dari pemerintah, tapi kenapa bisa ada susu dirumahku? Aku sangat heran karenanya. Ibuku yang melihat ekspresiku seperti itu, langsung berbicara, “sudah ayo nak, dimakan makanannya dan jangan lupa habiskan susunya”, “iya bu, terimakasih sudah menyiapkan sarapan buat firman” timpal aku. Setelah semuanya beres, aku berpamitan dengan ibu yang sedang sibuk dengan urusannya didapur, dan setelah itu aku berpamitan kepada ayahku yang sedari tadi sudah menungguku diluar menanti kepergian anaknya dalam perjuangan menuntut ilmu. Ketika mencium tangan ayahku, aku merasa sedih sekali, heningnya suasana saat itu benar-benar terasa. Ayah tidak berkata apa-apa, namun aku meneteskan air mataku dipunggung tangannya, sampai ketika aku akan mengayuh sepedaku pun ayah tetap terdiam tanpa ada sepatah katapun, hanya senyuman yang terlihat dari bibirnya. Semakin jauh aku mengayuh, semakin sedih rasanya, serasa aku benar-benar akan pergi jauh dari keluarga terutama ayahku. Namun aku cepat-cepat membuang jauh-jauh kesedihanku. Disepanjang jalan ditengah-tengah persawahan, indah rasanya melihat matahari terbit, menampakkan siluet para petani yang sedang melakukan aktifitasnya. “hitam tak selalu tidak terlihat indah” fikirku. Akhirnya setelah 15 kilometer aku menempuh perjalanan dengan sepeda kesayanganku, aku samapi ditempat ujian tes tulis menuju tempat kuliah yang aku idam-idamkan. Semuanya sudah kurencanakan, aku pasti bisa lulus ujian ini dan mendapatkan beasiswa full selama masa kuliahku.

0 komentar:

Posting Komentar