“firmaan,
bangun nak, tadi ada pak pos yang memberikan amplop ini, katanya buat saudara
firman”, ibuku penasaran sekali apa isi amplop itu. Setelah kubaca nama
pengirimnya, ternyata dari pihak kampus yang dua minggu yang lalu aku tes
disitu. Perlahan aku buka, aku dan ibuku sama-sama merasa penasaran akan apa
isinya setalah aku jelaskan dari mana surat itu datang kepada ibuku. Suara
sobekkan apmplopnya membuat jantungku berdegup kencang. Dan perlahan aku tarik
keluar isinya, dan kubuka tertulis disitu “Selamat kepada saudara Mohamad
Firman, anda dinyatakan lulus”. Aku langsung memeluk ibuku dan berkata, “firman
lulus bu, firman bisa kuliah tanpa ngebebanin ibu sama ayah”, kami berduapun
terisak bahagia atas isi dari surat itu. Ditengah pelukanku bersama ibu, aku
melihat sosok ayah berdiri diambang pintu dan tetap jarang bicara, namun hanya
tersenyum. 2 minggu menuju keberangkatanku ke kampus, ayahku tiba-tiba
sakit-sakitan, batuk tiap hari yang kudengar dari ayahku semakin lama semakin
parah. Dengan uang seadanya aku dan ibu membawa ayah ke puskesmas untuk
berobat. Menurut dokter dipuskesmas tersebut, ayah harus dilakukan pengobatan
dan harus beristirahat satu bulan penuh, kegembiraanku perlahan berubah menjadi
kesedihan yang tiap hari melihat ayahku kesakitan seperti itu. Namun dengan
kondisinya yang seperti itu, ayahku tetap tersenyum kepadaku dan mengatakan
kalau aku tidak usah kehilangan fokus kuliah gara-gara kondisi ayah. Tapi aku
tetap terdiam, aku tahan tangisanku untuk ayah, agar membuat hatinya tidak
terasa sakit melihat anaknya yang selalu sedih. Selagi masih ada waktu sebelum
aku kuliah, aku membantu ibuku berjualan tahu keliling sebagai pengganti ayah,
sampai kondisinya membaik.
Senja dihari itu, hari dimana ayahku kembali pulih
dari kondisi terburuknya. Tuhan telah benar-benar memberikan kuasa-Nya terhadap
keluarga kami. Disaat esok harinya aku akan berpamitan dari rumahku dan segala
penghuninya. Sore itu aku benar-benar merasa bahagia, namun kadang sedih itu
menyelingi ketika angan-angan melayang pada nun jauh disana. Bagaimana jika aku
meninggalkan keluarga ini? Melintas jauh melangkahi banyak kota dari kampungku,
meninggalkan ayah dan ibuku dengan segala kewajibannya sebagai orang tua? Itu
yang sedang berkecamuk dihatiku, fokusku untuk kuliah terpecah. Akankah aku berbesar
hati menjalaninya? Hanya tuhan yang tahu akan jawabannya.

Ledekan Dibalik Setumpuk Kertas (Part 3 "end")