Keep Enjoy Guys!!!

Sabtu, 06 Februari 2016

“firmaan, bangun nak, tadi ada pak pos yang memberikan amplop ini, katanya buat saudara firman”, ibuku penasaran sekali apa isi amplop itu. Setelah kubaca nama pengirimnya, ternyata dari pihak kampus yang dua minggu yang lalu aku tes disitu. Perlahan aku buka, aku dan ibuku sama-sama merasa penasaran akan apa isinya setalah aku jelaskan dari mana surat itu datang kepada ibuku. Suara sobekkan apmplopnya membuat jantungku berdegup kencang. Dan perlahan aku tarik keluar isinya, dan kubuka tertulis disitu “Selamat kepada saudara Mohamad Firman, anda dinyatakan lulus”. Aku langsung memeluk ibuku dan berkata, “firman lulus bu, firman bisa kuliah tanpa ngebebanin ibu sama ayah”, kami berduapun terisak bahagia atas isi dari surat itu. Ditengah pelukanku bersama ibu, aku melihat sosok ayah berdiri diambang pintu dan tetap jarang bicara, namun hanya tersenyum. 2 minggu menuju keberangkatanku ke kampus, ayahku tiba-tiba sakit-sakitan, batuk tiap hari yang kudengar dari ayahku semakin lama semakin parah. Dengan uang seadanya aku dan ibu membawa ayah ke puskesmas untuk berobat. Menurut dokter dipuskesmas tersebut, ayah harus dilakukan pengobatan dan harus beristirahat satu bulan penuh, kegembiraanku perlahan berubah menjadi kesedihan yang tiap hari melihat ayahku kesakitan seperti itu. Namun dengan kondisinya yang seperti itu, ayahku tetap tersenyum kepadaku dan mengatakan kalau aku tidak usah kehilangan fokus kuliah gara-gara kondisi ayah. Tapi aku tetap terdiam, aku tahan tangisanku untuk ayah, agar membuat hatinya tidak terasa sakit melihat anaknya yang selalu sedih. Selagi masih ada waktu sebelum aku kuliah, aku membantu ibuku berjualan tahu keliling sebagai pengganti ayah, sampai kondisinya membaik.
           Senja dihari itu, hari dimana ayahku kembali pulih dari kondisi terburuknya. Tuhan telah benar-benar memberikan kuasa-Nya terhadap keluarga kami. Disaat esok harinya aku akan berpamitan dari rumahku dan segala penghuninya. Sore itu aku benar-benar merasa bahagia, namun kadang sedih itu menyelingi ketika angan-angan melayang pada nun jauh disana. Bagaimana jika aku meninggalkan keluarga ini? Melintas jauh melangkahi banyak kota dari kampungku, meninggalkan ayah dan ibuku dengan segala kewajibannya sebagai orang tua? Itu yang sedang berkecamuk dihatiku, fokusku untuk kuliah terpecah. Akankah aku berbesar hati menjalaninya? Hanya tuhan yang tahu akan jawabannya.

0 komentar:

Posting Komentar